Thursday, November 21, 2013

Bronchitis



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pernapasan adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.

 Fungsi dari sistem pernapasan adalah untuk mengambil O2 yang kemudian dibawa oleh darah ke seluruh tubuh untuk mengadakan pembakaran, mengeluarkan CO2 hasil dari metabolisme, yang dijelaskan di bawah ini :
a.       Hidung
Merupakan saluran udara yang pertama yang mempunyai dua lubang dipisahkan oleh sekat septum nasi. Di dalamnya terdapat bulu-bulu untuk menyaring udara, debu dan kotoran. Selain itu terdapat juga konka nasalis inferior, konka nasalis posterior dan konka nasalis media yang berfungsi untuk mengahangatkan udara.
b.      Faring
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Terdapat di bawah dasar pernapasan, di belakang rongga hidung, dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Di bawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga di beberapa tempat terdapat folikel getah bening.
c.       Laring
Merupakan saluran udara dan bertindak sebelum sebagai pembentuk suara. Terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea di bawahnya. Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglottis yang dilapisi oleh sel epitelium berlapis.
d.      Trakea
Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 – 20 cincin yang terdiri dari tulang rawan yang berbentuk seperti tapal kuda yang berfungsi untuk mempertahankan jalan napas agar tetap terbuka. Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, yang berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan.

e.       Bronkus
Merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra thorakalis IV dan V. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus kanan lebih besar dan lebih pendek daripada bronkus kiri, terdiri dari 6 – 8 cincin dan mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri terdiri dari 9 – 12 cincin dan mempunyai 2 cabang. Cabang bronkus yang lebih kecil dinamakan bronkiolus, disini terdapat cincin dan terdapat gelembung paru yang disebut alveolli.
f.       Paru-paru
Merupakan alat tubuh yang sebagian besar dari terdiri dari gelembung-gelembung. Di sinilah tempat terjadinya pertukaran gas, O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah.

B.     Tujuan
1.      Mengetahui deskripsi dari penyakit Bronkitis berikut klasifiksasi, gejala, etiologi, pengobatan dan pencegahannya.




















BAB 2

Bojongpicung Tekan Angka Penderita Bronchitis

BOJONGPICUNG-Masih banyaknya penderita penyakit paru-paru (bronchitis) di Kecamatan Bojongpicung menjadi pekerjaan rumah Puskesmas Bojongpicung. Meski tergolong kasus penyakit lama namun penyakit paru-paru ini dinilai susah untuk dihilangkan.
Kasubag Tata Usaha Puskesmas Bojongpicung, Asep Suhayat mengatakan, penyakit bronchitis sangat mudah menular dengan perantara udara sebagai medianya. Biasanya penularan terjadi dan penderita tidak menyadari bahwa dirinya telah tertular karena bronchitis memiliki dampak jangka panjang tahunan hingga lima tahun.

Menurut data Puskesmas Bojongpicung jumlah penderita bronchitis di Kecamatan Bojongpicung mencapai 50 orang dan seluruhnya merupakan penderita lama. “Kita tekan kasus baru jangan sampai terjadi hingga tuntas,” ujarnya kepada Radar Cianjur.

Ia menambahkan, bronchitis lebih lebih banyak menular saat sedang terjadi percakapan dengan durasi jarak satu hingga dua meter. Namun tak menutup kemungkinan, orang yang tidak saling berbicara tidak terjangkit.
“Contohnya pengendara sepeda motor, setiap pengendara sebaiknya menggunakan masker penutup hidung dan mulut dan dilengkapi juga dengan menggunakan kaca penutup pada helm,” paparnya.

Ia menjelaskan, masyarakat biasanya tidak menyadari dan menganggap remeh penyakit bronchitis. Pada awalnya, penderita menganggap penyakit yang dideritanya adalah flu atau demam biasa. Sebaiknya segera memeriksakan kesehatan di tempat pelayanan kesehatan terdekat.
Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=52620
SUMBER : RADAR SUKABUMI ; Selasa 4 Juni 2013


Lebih lanjut, masyarakat harus selalu meningkatkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) baik di lingkungan keluarga maupun di luar keluarga. “Jangan sampai orang lain maupun kerabat terjangkit, karena pengobatannya relatif lama dan mengancam jiwa,” tegasnya.(yaz)

 
ANALISIS KASUS


















A.    Deskripsi Kasus
Dari kasus diatas dapat  diidentifikasi bahwa penyakit bronchitis merupakan penyakit umum yang sering terjadi di masyarakat, tetapi banyak yang menganggap remeh penyakit ini karena gejala yang timbul hanya flu atau demam biasa. Sehingga, masyarakat berpikir itu hanya penyakit biasa padahal jika dibiarkan akan menyebabkan penyakit bronchitis. Penyakit ini bisa timbul karena dalam berkendara khususnya bersepeda motor tidak menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut dan dilengkapi juga dengan menggunakan kaca penutup pada helm.


















BAB 3
PEMBAHASAN

A.    Definisi
Bronkitis adalah suatu peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru). Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Tetapi, pada penderita yang memiliki penyakit menahun ()misalnya, penyakit jantung atau penyakit paru-paru) dan pada usia lanjut, bronkitis bisa bersifat serius (Suryo, Joko. 2010).
Secara umum, bronkitis dibagi menjadi dua jenis, yaitu bronkitis akut dan bronkitis kronis. Bronkitis akut akan timbul karena flu atau infeksi lain pada saluran napas dan adapt membaik dalam beberapa hari atau beberapa pekan. Sedangkan, bronkitis kronis yang merupakan iritasi atau darang menetap pada saluran napas harus ditangani dengan lebih serius. Sering kali, bronkitis kronis disebabkan karena rokok (Suryo, Joko. 2010).

B.     Klasifikasi
1.      Bronkitis Akut
Bronkitis akut pada bayi dan anak biasanya juga bersama dengan trakeitis, merupakan penyakit saluran napas akut (ISNA) yang sering dijumpai DAN berakhir dalam masa 3 hari hingga 3 minggu ( Behrman,dkk. 2000).
2.      Bronkitis Kronik
Bronkitis Kronik dan atau berulang adalah kedaan klinis yang disebabkan oleh berbagai sebab dengan gejala batuk yang berlangsung sekurang-kurangnya selama 2 minggu berturut-turut dan atau berulang paling sedikit 3 kali dalam 3 bulan dengan atau tanpa disertai gejala respiratorik dan non respiratorik lainnya (KONIKA, 1981). Dengan memakai batasan ini maka secara jelas terlihat bahwa Bronkitis Kronik termasuk dalam kelompok BKB tersebut. Dalam keadaan kurangnya data penyelidikan mengenai Bronkitis Kronik pada anak maka untuk menegakkan diagnosa Bronkitis Kronik baru dapat ditegakkan setelah menyingkirkan semua penyebab lainnya dari BKB dan boleh berakhir sehingga 3 bulan dan menyerang semula untuk selama 2 tahun atau lebih ( Behrman,dkk. 2000).
C.    Gejala Umum
Gejala umum bronkitis adalah sebagai berikut :
1.      Batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan)
2.      Sesak napas ketika melakukan olahraga atau aktivitas ringan
3.      Sering menderita infeksi pernapasan (misalnya flu)
4.      Napas berat
5.      Mudah lelah
6.      Pembengkakan pergelangan kaki, kaki dan tungkai kaki kiri dan kanan
7.      Wajah, telapak tangan, atau selaput lendir yang berwarna kemerahan
8.      Pipi tampak kemerahan
9.      Gangguan penglihatan
(Suryo, Joko. 2010).
Ada beberapa gejala yang membedakan seseorang menderita bronkitis akut atau bronkitis kronis.
Pada bronkitis akut, gejala yang muncul yaitu :
1.         Terasa sakit pada sendi-sendi
2.         Lemas seperti saat flu
3.         Demam ringan atau demam tinggi
4.         Dada terasa nyeri terutama dibelakang tulang dada
5.         Napas berbunyi, adanya lendir di saluran pernapasan sehingga udara harus bergesekan dengan lendir
6.         Sering diiringi batuk keras dan kering yang hampir terus menerus
7.         Terdapat lendir kental/ludah dalam tenggorokan. Apabila ludah dikeluarka berwarna kuning ketika batuk, hal tersebut menandakan adanya infeksi
8.         Kulit mungkin menjadi tampak kebiruan karena kekurangan sulai oksigen

Penderita bronkitis akut harus lebih banyak istirahat dan menghindari kelelahan, serta mengonsumsi makan yang bergizi, hindarkan debu, dan zat-zat kimia yang merangsang, hentikan mengisap rokok dan gunakan antibiotik untuk memberantas infeksi bakteria
(Suryo, Joko. 2010).
Bronkitis kronik tidak selalu memperlihatkan gejala dan baru terasa setelah usia setengah baya, yaitu :
1.         Ditandai dengan tersumbatnya saluran pernapasan secara kronik, terjadi secara lamban dan lama-lama menjadi parah
2.         Napas pendek-pendek dan berbunyi
3.         Penurunan stamina
4.         Sering batuk-batuk
5.         Keadaan 1 dan 2 akan semakin parah sejalan dengan bertambahnya usia dan perkembangan penyakit sehingga menyebabkan kesukaran bernapas, kurangnya oksigen dalam darah dan kelainan fungsi paru-paru.
6.         Jika semakin parah dapat menyebabkan terjadinya pembengkakan jantung, kelumpuhan, kegagalan pernapasan yang parah serta kematian.

Oleh karena itu, untuk mengurangi berlanjutnya penyakit agar tidak menjadi parah dan sebelum kerusakan paru-paru semakin meluas, perlu menghentikan merokok dan hal-hal yang mengganggu pernapasan, menghindari cuaca terkena polusi, menjaga ruangan tetap hangat dan tidak pengap/lembap, mengonsumsi makanan yang bergizi dengan diet yang seimbang, istirahat yang cukup, gunakan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteria.
(Suryo, Joko. 2010).

D.    Etiologi
Ada 3 faktor utama yang mempengaruhi timbulnya bronchitis yaitu rokok, infeksi dan polusi. Selain itu terdapat pula hubungan dengan faktor keturunan dan status sosial, berikut adalah penjelasannya :
1.      Rokok
Menurut buku Report of the WHO Expert Comite on Smoking Control, rokok adalah penyebab utama timbulnya bronchitis. Terdapat hubungan yang erat antara merokok dan penurunan VEP (volume ekspirasi paksa) 1 detik. Secara patologis rokok berhubungan dengan hiperplasia kelenjar mukus bronkus dan metaplasia skuamus epitel saluran pernafasan juga dapat menyebabkan bronkostriksi akut.
2.      Infeksi
Eksaserbasi bronchitis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang diisolasi paling banyak adalah Hemophilus influenza dan streptococcus pneumonie.
3.      Polusi
Polusi tidak begitu besar pengaruhnya sebagai faktor penyebab, tetapi bila ditambah merokok resiko akan lebih tinggi. Zat – zat kimia dapat juga menyebabkan bronchitis adalah zat – zat pereduksi seperti O2, zat – zat pengoksida seperti N2O, hidrokarbon, aldehid, ozon.
4.      Keturunan
Belum diketahui secara jelas apakah faktor keturunan berperan atau tidak, kecuali pada penderita defisiensi alfa – 1 – antitripsin yang merupakan suatu problem, dimana kelainan ini diturunkan secara autosom resesif. Kerja enzim ini menetralisir enzim proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan merusak jaringan, termasuk jaringan paru.
5.      Faktor sosial ekonomi
Kematian pada bronchitis ternyata lebih banyak pada golongan sosial ekonomi rendah, mungkin disebabkan faktor lingkungan dan ekonomi yang lebih jelek.
( Behrman,dkk. 2000).

E.     Diagnosis
1.      Secara umum pendekatan cara diagnosis penyakit bronkitis kronik berupaanamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
a.       Anamnesis
Anamnesis dilakukan dengan wawancara pada penderita atau pekerja mengenai riwayat pekerjaan, pajanan, dan riwayat penyakit. Selain itu, anamnesis dapat dari data pajanan dan MSDS. Riwayat merokok merupakan hal yang penting untuk diketahui karena kebiasaan merokok berkontribusi besar dalam timbulnya penyakit bronkitis kronik.
b.      Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan melihat tanda-tanda yang umum seperti batuk yang retentif, suara napas yang mendecit, dan juga cyanosis di bagian lidah dan membran mukosa akibat pengaruh sekunder polisitemia. Dari postur, penderita memiliki kecenderungan overweight. Sedangkan melihat dari usia, kebanyakan penderita berumur 45-60 tahun. Penderita bronkitis kronik juga mengalami perubahan pada jantung berupa pembesaran jantung, cor pulmonal. Pemeriksaan fisik yang dapat digunakan untuk mengukur paru-paru antara lain adalah Uji fungsi paru adalah tes yang dilakukan untuk mengukur kemampuan paru-parudalam melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida
c.       Evaluasi laboratorium (Pemeriksaan non-fisik)
1)      Tes darah
Pengukuran ini digunakan untuk melihat kenaikan jumlah sel darah merah jika terdapat hipoksemia kronik. Jumlah sel darah putih akan meningkat jika terdapat infeksi pada pasien pneumonia. Namun, pada penderita bronkitis kronik, pengukuran jumlah seldarah ini tidaklah terlalu abnormal.Identifikasi pasien COPD yang mengalami polycythaemia sangatlah penting karenahal ini merupakan faktor predisposi kejadian-kejadian yang berhubungan dengan vaskular.Seseorang dapat diduga mengalami polycythaemia bila hematokrit > 47% pada wanita dan > 52% pada pria.
2)      Radiografi dada
Bronkitis kronik juga dapat dilihat melalui radiografi dada. Pada penderita bronkitis kronik biasanya radiografi dada menemukan peningkatan volume dada dengan diafragma dalam keadaan hiperinflasi. Kemudian, dinding bronchial juga mengalami penebalan.Ukuran jantung membesar menyebabkan volume jantung sebelah kanan terbebani terlalu berat.
2.      Secara umum pendekatan cara diagnosis penyakit bronkitis akut berupaanamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Diagnosis dari bronkitis akut dapat ditegakkan bila; pada anamnesa pasien mempunyaigejala batuk yang timbul tiba – tiba dengan atau tanpa sputum dan tanpa adanya bukti pasien menderita pneumonia, common cold , asma akut, eksaserbasi akut bronkitis kronik dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Pada pemeriksaan fisik pada stadium awal biasanya tidak khas.Dapat ditemukan adanya demam, gejala rinitis sebagai manifestasi pengiring, atau faring hiperemis. Sejalan dengan perkembangan serta progresivitas batuk, pada auskultasi dada dapat terdengar ronki wheezing , ekspirium diperpanjang atau tanda obstruksi lainnya. Bila lendir  banyak dan tidak terlalu lengket akan terdengar ronki basah
(Sidney S. Braman, 2006).



F.     Pencegahan
Sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah berkembangnya penyakit bronkitis yang berulang, perlu diadakannya langkah-langkah untuk membantu menurunkan risiko bronkitis dan melindungi organ paru-paru secara umum, di antaranya :
1.      Hindari merokok diruang keluarga atau ruang tempat bermain anak, usahakan untuk tidak merokok di depan anak. Bila perlu hentikan kebiasaan merokok demi keselamatan diri dan orang sekitar akibat bahaya dari asap rokok.
2.      Mencoba menghindari kontak langsung apabila anggota keluarga atau siapapun disekitar anda sedang terserang flu dan batuk.
3.      Dapatkan vaksinasi terhadap flu tahunan. Karena dari banyaknya kasus yang terjadi penyakit bronkitis kronis terjadi akibat influenza dan virus. Dengan melakukan vaksinasi membantu mengurangi risiko bronkitis.
4.      Konsultasi dengan dokter jika mengalami pneumonia (radang paru-paru diatas usia 60 tahun, terutama bagi penderita yang memiliki penyakit komplikasi lainnya seperti diabetes mellitus, penyakit jantung, dan paru-paru. Dapat pula melakukan vaksin prevnar yang diperuntukkan bagi anak-anak untuk melindungi dari serangan penyakit pneumonia dimulai dari usia dibawah 2 tahun.
5.      Menjaga kebersihan dengan mencuci tangan menggunakan sabun antiseptik yang aman untuk memperkecil risiko terkena infeksi virus.
6.      Gunakan masker, jika sedang beraktivitas diluar ruangan untuk menghindari paparan langsung polusi udara dari debu, asap kendaraan dan lain-lain.

Pencegahan-pencegahan yang dilakukan agar terhindar dari bronkitis kronik adalah
1.      Menghindari merokok, karena merokok merupakan akar penyebab utama bronkitis kronik.
2.      Menghindari iritan, seperti polusi udara, fume dan lain-lain.
3.      Menghindari terkena infeksi saluran respirasi. Flu dapat menjadi predisposisi jika telah terkena penyakit bronkitis kronik, oleh karena itu cuci tangan dengan sabun sangat efektif menghindari infeksi virus atau kuman ke dalam tubuh.
4.      Mengurangi pajanan dengan teknik-teknik pengendalian industrial higiene, yaitueliminasi, subtitusi, engineering control, administrative control, APD, dan sebagainya.
5.      Melakukan surveilens kesehatan dengan pembagian kuesioner secara periodik. Hal inisangat direkomendasikan pada para pekerja yang berisiko bronkitis kronik
(Levy, 2005)

G.    Pengobatan
Pengobatan Bronkitis kronis dilakukan secara berkesinambungan untuk mencegah timbulnya penyakit, meliputi:
1.         Edukasi, yakni memberikan pemahaman kepada penderita untuk mengenali gejala dan faktor-faktor pencetus kekambuhan Bronkitis kronis.
2.         Sedapat mungkin menghindari paparan faktor-faktor pencetus.
3.         Rehabilitasi medik untuk mengoptimalkan fungsi pernapasan dan mencegah kekambuhan, diantaranya dengan olah raga sesyuai usia dan kemampuan, istirahat dalam jumlah yang cukup, makan makanan bergizi.
4.         Oksigenasi (terapi oksigen)
5.         Obat-obat bronkodilator dan mukolitik agar dahak mudah dikeluarkan.
6.         Antibiotika. Digunakan manakala penderita Bronkitis kronis mengalami eksaserbasi oleh infeksi kuman ( H. influenzae, S. pneumoniae, M. catarrhalis). Pemilihan jenis antibiotika (pilihan pertama, kedua dan seterusnya) dilakukan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan.
Para penderita Bronkitis kronis seyogyanya periksa dan berkonsultasi ke dokter manakala mengalami keluhan-keluhan batuk berdahak dan lama, sesak napas, agar segera mendapatkan pengobatan yang tepat.
H.    Komplikasi
1.      Bronkitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik yang mengenai beberapa alat tubuh yaitu :
a.       Penyakit Jantung Menahun, baik pada katup maupun myocardium. Kongesti menahun pada dinding bronchus melemahkan daya tahannya sehingga infeksi bakteri mudah terjadi.
b.      Infeksi sinus paranasalis dan Rongga mulut, merupakan sumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronchus.
c.       Dilatasi Bronchus (Bronchiectasi), menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding bronchus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi.
(Saffira, 2009)































BAB 4
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Bronkitis adalah suatu peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru). Secara umum, bronkitis dibagi menjadi dua jenis, yaitu bronkitis akut dan bronkitis kronis. Bronkitis akut akan timbul karena flu atau infeksi lain pada saluran napas dan adapt membaik dalam beberapa hari atau beberapa pekan. Sedangkan, bronkitis kronis yang merupakan iritasi atau darang menetap pada saluran napas harus ditangani dengan lebih serius.
Ada 3 faktor utama yang mempengaruhi timbulnya bronchitis yaitu rokok, infeksi dan polusi. Selain itu terdapat pula hubungan dengan faktor keturunan dan status sosial, yang dapat didiagnosa dengan cara diagnosis penyakit bronkitis kronik berupa anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah berkembangnya penyakit bronkitis yang berulang, perlu diadakannya langkah-langkah untuk membantu menurunkan risiko bronkitis dan melindungi organ paru-paru secara umum dan pengobatannya dilakukan secara berkesinambungan untuk mencegah timbulnya penyakit.

B.       Saran
Oleh karena itu, untuk mengurangi berlanjutnya penyakit agar tidak menjadi parah dan sebelum kerusakan paru-paru semakin meluas, perlu menghentikan merokok dan hal-hal yang mengganggu pernapasan, menghindari cuaca terkena polusi, menjaga ruangan tetap hangat dan tidak pengap/lembap, mengonsumsi makanan yang bergizi dengan diet yang seimbang, istirahat yang cukup, gunakan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteria.








DAFTAR PUSTAKA

Boycell.2011.Makalah Bronkitis.boycellyess.blogspot.com.diakses pada tanggal 7 Maret 2012 pukul 21.20 WIB
Suryo, Joko. 2010. Herbal Penyembuhan Gangguan Sistem Pernapasan. PT. Bentang Pustaka. Yogyakarta
Berhman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. EGC. Jakarta
Barry S. Levy, et al. 2005. Preventing Occupational and Injury. DC.APHA. Washington
Dahlan, Zul. 2000. Penegakan Diagnosis dan Terapi Asma dengan Metode Obyektif. Dari
Cermin Dunia Kedokteran No. 128
Kumar, Robbins. 1995. Contran.Dasar Patologi Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.
Lax, Michael B., et al. 2009. Recognizing Occupational Disease. Taking an Effective Occupational History . http://www.aafp.org/afp/980915ap/lax.html [18 September 2009]
Lawrence M, Tierney, Jr, MD et all, 2002. Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit Dalam,
Saffira, Rizkia. 2009. Asuhan Keperawatan  pada Pasien dengan COPD.  http://irmanweb.files.wordpress.com/2008/07/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-copd.pdf [ 28 September 2009 ]
Sylvia Anderson-Lorraine McCarty. 2009. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. EGC. Jakarta

0 comments:

Post a Comment